Anggaran Gendut, Pondasi Abal- Abal, Pemenang Tender Tuding Ada Kibus ?

Memo-86,Natuna

Senin 4 September 2017 lalu, suasana di jalan Lemis-Pasir Marus tak seperti biasanya. Jalan di pesisir pantai itu, acak tak karuan, akibat adanya pengerjaan pembangunan/peningkatan jalan dan jembatan (Lanjutan), dari Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2017.

( Foto : Subhan,Kontraktor CV.TELUK SANGKI BAHARI )

Proyek milyaran itu dimulai awal Agustus lalu. Semasa pengerjaan, banyak kabar tak sedap mencuat, menimbulkan spekulasi, proyek itu “bermasalah”. Saat di kroscek lebih detail, terlihat pemasangan batu pondasi dan box covert sudah di mulai.

Anehnya, kedalaman pondasi di bibir pantai itu, hanya 10-15 cm2 dan box covert tidak memakai pondasi cakar ayam. Kultur tanah berpasir dan rawa, tentu rawan untuk bangunan skala besar, apalagi, jika badai datang, hantaman ombak pasti mempercepat rusaknya bangunan.


Demi tugas negara, media memo86 bersama rekannya, bertandang ke basecame. Di sana, hanya ada beberapa pekerja, dan kepala tukang bernama Hutauruk.

Pria separuh baya itu mengatakan, pak Subhan lagi di kota. “kalau mau konfirmasi, hubungi saja,” ucapnya sembari memberi nomor handphon.
Secara kasat mata, Tak banyak buruh bekerja lantaran pasokan semen kosong.

Hal itu membuat sejumlah pekerja sibuk mengikat besi, terutama konsultan pengawas dari CV. GRACONA yang tidak mau ketinggalan. Saat di temui, pria berkopiah yang tidak di ketahui indentitasnya itu kabur, tak bergeming.

Subhan, Kontraktor pemenang tender dari CV. Teluk Sangki Bahari, dengan nilai kontrak Rp1.432.086.000, meradang saat dirinya menemui wartawan di penginapan. Pertemuan itu terjadi sore hari, setelah wartawan memo86 menghubunginya terlebih dahulu.
Ia terus meradang, kala di berondong sejumlah pertanyaan terkait kedalaman pondasi.

Dirinya malah menuding wartawan menerima informasi dari kontraktor yang kalah, dalam tender peningkatan jalan dan jembatan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau tahun 2017.

Data LPSE Provinsi Kepulauan Riau menyebutkan, Pembangunan Jalan Lemis-Pasir Marus Kecamatan Bunguran Barat, di ikuti sebanyak 46 perusahan. Dari ke 46 perusahan, CV. Terik Natuna memiliki harga penawaran terendah senilai Rp.1.366.058.672. Di urutan ke-dua CV, Teluk SANGKI BAHARI. Urutan ke-tiga TITIAN REJEKI Rp1.449.800.000. Ke-empat CV. MEGAT PUTRA PERKASA Rp1.528.879.515. Ke-lima CV. Jaya Citra Baru Rp1.560.515.000. Ke-enam, CV. ANUGRAH JAYA Rp. 1.566.025.476.

Sayang, dewi fortuna tidak berpihak pada CV.TERIK NATUNA lantaran tidak menyampaikan refrensi pengalaman dalam bidang konstruksi jalan untuk personil tenaga ahli ( yang memiliki SDA). Lalu, siapakah pihak rekanan yang di “ tuding” Subhan sebagai “kibus”?.

Sumber harian jayapos menyebutkan, awalnya proyek itu di “peruntukkan” bagi perusahaan CV. TERIK NATUNA, milik Junaidi keponakan Tawarih, anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau.

Lantaran kalah administrasi, ada “winwin solusion” antar kedua belah pihak. “Kerjasama” dalam pengerjaan proyekpun tercetus. Namun, di tengah perjalan, keretakan mulai terdengar seantero kota Sedanau.
Hingga saat ini, Junaidi belum bisa di konfirmasi, guna mempertanyakan kebenaran informasi ini.

Banyaknya kejanggalan dalam mega proyek dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulau Riau di kecamatan Bunguran Barat, patut di “bongkar”. Jangan sampai, proyek milyaran, hanya seumur jagung, oleh ulah oknum tak bertanggung jawab.

Di tempat terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Natuna, Marzuki, saat di konfirmasi dua hari lalu, di ruang kerjanya, berharap, pengerjaan proyek Jalan Lemis- Pasir Marus jangan ada permainan. Soal teknis, Dirinya tidak ingin berkomentar, namun ia meminta agar proses pengerjaan di lakukan sesuai bestek. Tunggu kelanjutan beritanya. >>Rian

Facebook Comments
Sebarkan Berita ini:

Related posts